Susahnya Menjauhi Perilaku Hidup Konsumtif

Memang walau sudah tahu dan banyak membaca tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi secara baik serta menetapkan tujuan finansial dengan matang. Akan tetapi dalam prakteknya tidak mudah bagi kita untuk bisa konsisten lurus antara ilmu yang didapat dengan perbuatan di lapangan. Ambil sebuah contoh, kita tahu bahwa menabung itu seharusnya di depan setiap kali menerima penghasilan, akan tetapi karena belum terbiasa dan terlatih tetap saja godaan nafsu konsumtif muncul yang “memerintahkan” kita untuk atau membisikkan “nurani konsumtif” kita dengan mengatakan “…udah nanti aja nabungnya, habisin belanja aja lagi, toh sedikit ini kalau ditabung…”. Akhirnya dilanggarlah komitmen dan ilmu yang didapat, sehingga lagi-lagi terulang seperti yang sudah-sudah, uang gaji habis sudah tanpa tersisa tanpa meninggalkan tabungan sedikit pun.

Kondisi lain misalnya, kita sudah memiliki gadget N95 yang masih lumayanlah untuk bisa digunakan. Eh, tiba-tiba teman sekantor ada yang pamer sudah punya BB Onyx atau iPhone 3GS baru. Akhirnya terpancinglah “amarah konsumtif plus gengsinya” agar punya juga. Padahal kita sudah tahu bahwa planning ke depan kita adalah bukan membeli gadget, tapi menyiapkan uang muka sekolah anak besok untuk masuk SD. Namun, karena sudah terbakar rasa “cemburu” akhirnya digunakanlah 1,2,3 kartu kredit yang dimiliki untuk membli gadget kayak teman sekantornya itu!

Memang setelah membeli gadget tersebut rasanya sangat puas yang dirasa kita juga naik kelas gengsi🙂 Namun setelah itu, pada bulan berikutnya mulailah kita pusing harus membayar cicilan kartu kredit yang sudah dipakai tersebut plus bunganya. Ternyata eh ternyata, kita tidak punya dana untuk membayar cicilan, karena memang sebenarnya kita itu tidak punya dana dan juga tidak mampu untuk membeli gadget tersebut. Namun karena menganggap kartu kredit adalah “uang bonus tambahan” akhirnya kita lupa pada hakikat dan manfaat penggunaan kartu kredit tersebut. Akhirnya apa, karena sering terlambat membayar plus bunga kartu kredit yang berlipat-lipat plus denda, apalagi diterapkan strategi gali lubang tutup lubang hutang akhirnya kita nggak kuat melunasi dan berakibat gadget “gengsi” tersebut akhirnya dijual kembali untuk menutupi hutang tersebut.

Nah, apa pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita di atas? Apa mungkin ada dari kita yang pernah mengalaminya? Kalau yang belum pernah bersyukurlah, karena jangan sampai Anda terjebak dengan perilaku konsumtif yang konyol seperti itu. Memang di jaman yang serba mengukur derajat sosial/ekonomi dengan materi yang dimiliki membuat kita terhanyut ke dalamnya. Padahal ilmu manajemen keuangan keluarga tidak pernah mengajari kita seperti itu. Untuk itu kita harus selalu berjalan pada garis koridor kebijakan finansial keluarga/pribadi yang sudah kita tetapkan. Makanya dari itu sekali lagi kami selalu mengingatkan bahwa betapa pentingnya kita memiliki perencanaan keuangan keluarga yang baik dan menerapkan perilaku finansial yang disiplin dan teratur.

Akan tetapi sebenarnya bagi para pengguna software MyFamily Accounting seharusnya tidak akan pernah terjerumus seperti kejadian di atas. Karena di software ini ada fitur yang dapat mengingatkan kita berapa kondisi rasio hutang kita saat ini. Yang artinya, bila kita menambah hutang baru makan oleh aplikasi ini akan diingatkan bahwa hutang kita sudah overlimit dan bisa mendekati kebangkrutan! Selain itu ada juga fasilitas memantau anggaran dan realisasinya. Jadi kalau sudah bakal melebihi anggaran, maka sistem ini akan mengingatkan kita agar jangan melebihi yang sudah dianggarkan. Sehingga secara keseluruhan kita sudah sangat dibantu untuk bisa disiplin dalam mengatur keuangan dengan baik dan benar.

Semoga di tengah beratnya menjauhi perilaku hidup konsumtif, kita tetap istiqomah di jalan finansial yang baik dan sehat… amin…

About MyFamily Accounting

Blog ini didedikasikan khusus untuk membahas lengkap tentang pengelolaan keuangan keluarga secara profesional. Selain itu juga dibahas juga produk software/piranti lunak MyFamily Accounting asli buatan anak negeri yang sangat membantu dan memudahkan seluruh keluarga dalam mengelola keuangan keluarganya. Sehingga hadirnya blog ini selain memberikan ilmu tentang manajemen keuangan keluarga, juga ada alat pendukung dalam praktek mengelola keuangan keluarga tersebut. Unduh aplikasinya di https://myfamilyaccounting.wordpress.com/2015/06/01/myfamily-accounting-kini-tersedia-gratis/ Semoga literasi finansial masyarakat Indonesia terus dan semakin meningkat..! Terima kasih Email : ardian2007@gmail.com
This entry was posted in Curhat, Fenomena, Kecerdasan Finansial, Keuangan, Keuangan Keluarga, MyFamily Accounting, Opini. Bookmark the permalink.

3 Responses to Susahnya Menjauhi Perilaku Hidup Konsumtif

  1. Pingback: Inilah 25 Sumber Penghasilan Seorang Dosen « MyFamily Accounting

  2. Pingback: Berbagai Alasan Ketika Memutuskan untuk Memiliki Rumah « MyFamily Accounting

  3. Pingback: Kiat Mengatasi Perilaku Impulse Buying « MyFamily Accounting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s