Hutangmu Adalah Rapormu

Kalau dalam dunia pendidikan, mulai dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi kita akan selalu menerima progress report berisi kemajuan pendidikan kita tersebut. Selain itu juga di dalam report tersebut tertera berbagai macam penilaian yang berkaitan dengan hasil mata pelajaran yang telah ditempuh. Ada yang nilainya baik, memuaskan bahkan buruk dan tidak jarang ada yang tidak “naik kelas” atau “tidak lulus”.

Masih ingat kita betapa suka cita dan bahagianya bila seluruh nilai sekolah kita baik semua, dan sebaliknya begitu sedih dan bermuram durja apabila nilai kita ada yang “merah”. Ya begitulah, kalau di dalam dunia pendidikan/sekolah formal, sebagian besar rapor kita ditentukan oleh hasil nilai ujian yang telah kita lalui.

Nah, bagaimana kalau urusan uang, duit bin finansial? Ternyata di dalam dunia finansial, kita sebagai salah satu “anak didik” atau bahasa formalnya adalah Nasabah, setiap kali kita memiliki rekening hutang atau yang dinamakan Debitur bank, baik itu hutang Kartu Kredit, hutang KPR, KPM, hutang tunai tanpa agunan, hutang modal kerja atau investas dsb. Maka pada waktu itu pula bank akan mulai mencatat track record kita apakah termasuk nasabah yang memiliki “nilai” baik atau buruk. Uniknya bank tidak peduli apakah Anda seorang lulusan SD, SMP, SMU atau Profesor lho… Yang dinilai bank hanyalah rapor finansial Anda yang tercatat di dalam sistem perbankan.

Loh, kenapa harus hutang sebagai indikator rapor nasabah? Ya, tentu saja karena produk kredit perbankan adalah salah satu sumber penyumbang pendapatan usaha bank yang utama. Sehingga jangan kaget bahwa pihak bank itu sebenarnya sangat mencari-cari orang untuk dikasih pinjaman. Karena semakin banyak orang yang meminjam/berhutang, maka potensi penghasilan bank akan terus meningkat. Jadi dengan kata lain, kita itu sebenarnya orang-orang yang sangat dicari pihak bank, karena bank sangat butuh Anda!.

Bagaimana caranya memiliki rapor baik di pihak bank? Caranya mudah sekali, patuhilah segala aturan dan ketentuan perjanjian hutang yang telah Anda tanda tangani, dan jangan sekali-kali melanggar. Misalnya potensi utama pelanggaran yang biasa kita lakukan adalah terlambat dalam membayar cicilan. Pokoknya usahakanlah jangaan sampai pernah menunggak pembayaran cicilan hutang walau satu rupiah pun. Karena perbuatan tersebut dinilai negatif  oleh bank dan akan dicatat dalam histori rapor nasabah sebagai tanda merah. Semakin banyak nilai merah, maka akan berimbas pada penilaian bank terhadap Anda secara keseluruhan. Terutama misalnya untuk menawarkan produk-produk baru atau fasiltias-fasilitas lainnya.

Sebaliknya bila ingin disayang bank dengan nilai rapor yang bagus, tunjukkanlah dengan melakukan pembayaran yang selalu tepat waktu, kemudian arus kas masuk dan keluar yang lancar, yang tercermin dalam buku tabungan, giro yang Anda miliki. Semakin lancar arus kas yang tercatat, maka bank akan semakin menyayangi Anda dan jangan kaget bila sewaktu-waktu Anda akan sering ditawarkan produk atau fasilitas perbankan lainnya, bahkan sampai kenaikan limit kredit baru. Sehingga sering diungkapkan, bila hutang Anda puluhan juta, maka Anda yang akan pusing, bila hutang Anda miliaran maka bank yang akan pusing, dan bila hutang Anda ratusan miliar bahkan triliunanan maka negara yang akan ikut-ikutan pusing🙂

About MyFamily Accounting

Blog ini didedikasikan khusus untuk membahas lengkap tentang pengelolaan keuangan keluarga secara profesional. Selain itu juga dibahas juga produk software/piranti lunak MyFamily Accounting asli buatan anak negeri yang sangat membantu dan memudahkan seluruh keluarga dalam mengelola keuangan keluarganya. Sehingga hadirnya blog ini selain memberikan ilmu tentang manajemen keuangan keluarga, juga ada alat pendukung dalam praktek mengelola keuangan keluarga tersebut. Unduh aplikasinya di https://myfamilyaccounting.wordpress.com/2015/06/01/myfamily-accounting-kini-tersedia-gratis/ Semoga literasi finansial masyarakat Indonesia terus dan semakin meningkat..! Terima kasih Email : ardian2007@gmail.com
This entry was posted in Bisnis, Curhat, Entrepreneurship, Fenomena, Investasi, Kecerdasan Finansial, Keuangan, Keuangan Keluarga, Kiat Praktis, Konglomerat, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s