Uang Pribadi dan Uang Usaha: Dicampur atau Dipisah?

Bagi seorang pribadi dan keluarga yang sekaligus menjalankan sebuah bisnis/usaha sudah barang tentu harus bergulat dengan dual mode personality yang mesti dilakoni setiap hari. Di satu saat harus bertindak sebagai kepala/bagian dari keluarga, namun di saat yang lain mesti berperan sebagai seorang pemimpin/pemilik bisnis yang dijalankannya.  eluarga/Pribadi dan bisnis/usaha adalah dua entitas atau unit lembaga yang satu sama lain memiliki karakteristik dan ciri beserta aturan main yang berbeda.  Bahkan tidak jarang banyak yang berpedoman tidak mau mencampuri urusan bisnis dengan pribadi. Padahal memang hasil dari usaha/bisnis yang kita jalankan tidak lain tidak bukan demi  menghidupi kehidupan keluarga kita bukan? Semakin besar usaha/bisnis yang dijalankan, maka peluang menjadi keluarga yang berkecukupan hingga berlebih akan semakin terbuka lebar.

Akan tetapi ada satu hal yang sampai saat ini menjadi perdebatan tiada akhir yaitu mengenai paham tentang pengelolaan uang pribadi dengan uang usaha (baca: bisnis). Paham pertama meyakini bahwa antara uang usaha dan uang pribadi harus dipisah. Alasannya karena kebijakan dan pengelolaan dalam mengelola keuangan di dua area tersebut cukup berbeda. Misalnya, bila menyangkut masalah hutang, maka antara strategi dan kebijakan untuk keperluan pribadi dan untuk keperluan usaha tentu sangat berbeda. Karena kalau untuk usaha hutang sudah ibaratkan darah demi pengembagan usaha. Sedangkan hutang untuk keperluan pribadi harus melalui seleksi ketat dengan perhitungan yang sangat matang. Karena salah dalam mengambil hutang, maka otomatis berdampak sistemik pada kehidupan finansial keluarga kelak. Apalagi bagi keluarga yang sumber utama penghasilannya hanya dari gaji. Sehingga hutang memang kebanyakan menjadi “aib” bagi keluarga.

Selain itu alasan lainnya mengapa perlu pemisahan antara uang pribadi dan uang usaha adalah karena bila dicampur maka akan terjadi kekacauan dan kebingungan dalam menentukan antara mana yang uang pribadi dan mana uang usaha. Apabila ini terjadi maka jangan heran banyak cerita dan pengalaman yang kita dengar bahwa mereka ternyata telah menggunakan bahkan tidak jarang menghabiskan uang usaha untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pribadi! Alhasil ketika dikalkulasi dan ditelusuri pengeluaran tersebut telah menggerus modal usaha. Sehingga perputaran barang usaha jadi tersendat dan bahkan menuntun ke arah kebangkrutan!

Sedangkan paham kedua ada yang meyakini bahwa tidak masalah uang usaha dan uang pribadi dicampur. Mereka yang meyakini paham ini berpandangan bahwa dengan dicampurnya kedua uang tersebut akan semakin membuat mereka semangat dalam menjalankan bisnis dan usahanya. Mereka akan lebih terpacu dan semangat membesarkan usahanya, sehingga setiap ada kebutuhan untuk melakukan pembelian yang bersifat konsumtif untuk keluarga dan untuk pengembangan usaha mereka harus cepat bisa memenuhi dan memiliki uang untuk melakukan pembelian tersebut. Dari pengamatan kami, paham kedua ini banyak dianut oleh para pedagang-pedagang dan streetpreneur, yang banyak mengandalkan insting dan kalkulasi prediksi dalam menjalankan bisnisnya.

Terlepas dari kedua paham tersebut, sebenarnya tidak ada yang salah atau benar, silahkan saja kita mau menerapkan yang mana. Yang terpenting Anda bisa memantau dan mengelola arus masuk keluar uang tersebut dengan baik. Mengendalikan rasio-rasio keuangan keduanya dan memantau pertumbuhan usaha berdasarkan data-data keuangan yang ada. Tentu saja untuk bisa melakukan itu semua dibutuhkan alat bantu yang mumpuni, sehingga sekali lagi keberadaa software keuangan akan menjadi solusi jitu untuk mengatasi itu semua.

MyFamily Accounting bila diterapkan lebih luas/advanced sebenarnya dapat digunakan untuk mengelola keuangan keluarga dan usaha secara bersamaan. Sehingga Anda akan dengan mudah mengetahui dan mengidentifikasi mana saja data-data keuangan pribadi dan data keuangan usaha. Memang untuk saat ini MyFamily Accounting baru bisa menangani keuangan usaha yang bergerak di bidang jasa.

Jadi, bagi yang tertarik dan butuh solusi agar bisa mengelola keuangan pribadi dan keluarga sekaligus maka jangan ragu lagi, segeralah menggunakan software MyFamily Accounting.

*****


Update

Pada tanggal 1 Januari 2017 MyFamily Accounting akan merilis versi private beta yang bisa digunakan di web dan Android. Versi terbaru ini akan tetap sepenuhnya gratis tanpa dikenakan biaya apapun!

Segera daftarkan diri Anda sebagai salah satu dari 5000 pengguna eksklusif pertama dengan memasukkan email pada form di bawah ini:

About MyFamily Accounting

Blog ini didedikasikan khusus untuk membahas lengkap tentang pengelolaan keuangan keluarga secara profesional. Selain itu juga dibahas juga produk software/piranti lunak MyFamily Accounting asli buatan anak negeri yang sangat membantu dan memudahkan seluruh keluarga dalam mengelola keuangan keluarganya. Sehingga hadirnya blog ini selain memberikan ilmu tentang manajemen keuangan keluarga, juga ada alat pendukung dalam praktek mengelola keuangan keluarga tersebut. Unduh aplikasinya di https://myfamilyaccounting.wordpress.com/2015/06/01/myfamily-accounting-kini-tersedia-gratis/ Semoga literasi finansial masyarakat Indonesia terus dan semakin meningkat..! Terima kasih Email : ardian2007@gmail.com
This entry was posted in Bisnis, Curhat, Entrepreneurship, Fenomena, Kecerdasan Finansial, Keuangan, Keuangan Keluarga, Opini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Uang Pribadi dan Uang Usaha: Dicampur atau Dipisah?

  1. Pingback: Berbagai Alasan Ketika Memutuskan untuk Memiliki Rumah « MyFamily Accounting

  2. Nugik says:

    mksh postingannya sngat membantu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s