Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Belum lama ini kita dikejutkan dengan keluhan para Profesor riset di LIPI mengenai minimnya gaji yang mereka terima yang besarannya hanya sekitar 5,2 juta per bulan. Bila dibandingkan, maka gaji para peneliti itu pun kalah dengan gaji seorang guru SD biasa yang bisa mencapai 6,5-8,6 juta per bulan. Gaji peneliti tersebut jauh lebih kecil dibandingkan gaji Profesor riset di Singapura yang mencapai Rp 90 juta. Sementara itu, jabatan yang setara di Jepang mendapatkan gaji sekitar Rp 100 juta per bulan. Tentu ini sebuah ironi yang nyata, di tengah kehebatan para ilmuwan kita yang banyak kerap menorehkan prestasi di tingkat nasional bahkan internasional. Ternyata dari sisi kompensasi, gaji peneliti kita jauh dari memadai. Padahal pemerintah selalu mendorong agar peneliti kita selalu bisa bermain di kancah internasional. Namun, bila anggaran dana yang diberikan hanya bersifat lokal bagaimana mungkin? Lanjut Baca »

Biasanya topik tentang mobil yang cukup menarik perhatian biasanya adalah tentang kredit mobil. Cukup jarang tulisan dan diskusi yang membahas tentang biaya-biaya apa saja yang sering dikeluarkan jika memiliki mobil. Nah, pada tulisan kali ini kita coba bahas bersama tentang pengeluaran rutin apa saja yang selalu dikeluarkan oleh pemilik mobil.

Memiliki kendaraan roda empat sangatlah diidam-idamkan oleh setiap orang. Banyak sekali manfaat yang dirasakan; seperti terhindar dari kepanasan, kehujanan, hingga bisa mengangkut banyak anggota keluarga sekaligus.
Namun, di balik kenyamanan yang dirasakan oleh pemilik mobil, maka terdapat biaya yang mesti dikeluarkan secara rutin.
Sengaja tulisan ini mengambil topik tentang apa saja dan berapa biaya-biaya yang mesti siap digelontorkan oleh pemilik mobil setiap minggu, bulan atau tahun. Dengan dipahaminya biaya-biaya yang muncul, maka bagi yang tengah berencana untuk memiliki mobil bisa mengetahui dan mengkalkulasi kembali dengan cermat.
Mari kita asumsikan mobil yang dimiliki adalah mobil standar kebanyakan dimiliki masyarakat Indonesia sekelas MPV, SUV atau sedan (tanpa menyebutkan merk). Adapun kapasitas mesin berkisar 1800-2000 CC dengan pemakaian rutin
setiap hari pergi-pulang dari rumah ke kantor dan keperluan lainnya.

Beberapa asumsi biaya rutin yang harus disiapkan adalah:
1. Bensin        = 1.000.000/bulan    = 12.000.000/tahun
2. Servis (tune up)     = 250.000/4 bulan    = 750.000/tahun
3. Ganti oli mesin    = 200.000/4 bulan    = 600.000/tahun
4. Pajak        = 2.000.000/tahun    = 2.000.000/tahun

Dengan demikian jika dikalkulasi, total biaya yang perlu dikeluarkan sang pemilik mobil adalah sebesar Rp. 15.350.000 setiap tahunnya atau Rp. 1.279.166 setiap bulannya atau Rp. 42.638 setiap harinya.

Sumber gambar: http://bisnis-jabar.com/index.php/2011/06/10-cara-pemborosan-uang-dalam-penggunaan-mobil/mobil-boros/

Pada postingan tentang Dasar-Dasar Manajemen Keuangan Keluarga Profesional 1 dan 2 telah panjang lebar dijelaskan bagaimana seharusnya sebuah keluarga mengatur arus kas, surplus/minus hingga neraca keuangan keluarganya. Kita juga tahu bahwa ternyata banyak sekali income di luar gaji seperti hasil bisnis, gain dari aset kertas semacam reksadana, saham, hingga hasil sewa properti, lisensi, royalti, dsb.

Nah, sekarang tulisan ini akan mengetengahkan sebuah checklist dalam bentuk tabel untuk memudahkan kita dalam memantau perkembangan sumber income tadi dan digunakan untuk apa. Perhatikanlah tabel di atas tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh sumber income telah dimiliki dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita saat ini, kebutuhan rutin bahkan kebutuhan yang akan datang.

Tentu saja tujuan hakiki kita adalah seluruh income kita berasal dari seluruh aset dan bukan dari gaji lagi. Sehingga dengan kata lain fokus kita bersama adalah bagaimana caranya mengembangbiakkah aset kertas, properti, royalti, lisensi, dsb yang lama kelamaan menjadikan aliran kas yang bersifat passive income. Nah apabila tujuan tersebut bisa tercapai dan bahkan bisa jauh melebihi seluruh kebutuhan rutin, saat ini bahkan masa depan maka tidak salah bila kita/Anda berhak disebut orang yang telah bebas finansial alias “financial freedom“. Selamat! dan mohon untuk sudi berbagi via blog ini.

Depositu adalah salah satu produk finansial yang disediakan oleh perbankan. Bila kita perhatikan hampir seluruh bank menyediakan produk satu ini. Mata uang yang digunakan dapat dalam bentuk rupiah atau mata uang asing. Berikut beberapa informasi penting mengenai deposito.

  • Setoran dan penarikan deposito tidak dapat dilakukan kapan saja, karena deposito hanya bisa disetor dan ditarik dalam waktu tertentu saja. Makanya deposito sering disebut juga sebagai tabungan berjangka. Bila Anda menarik deposito sebelum waktunya maka akan dikenakan pinalti.
  • Jangka waktu deposito bervariasi dan dapat Anda pilih yaitu 1, 3, 6 atau 12 bulan.
  • Bunga deposito memang biasanya selalu lebih besar dibandingkan tabungan biasa. Sehingga memang deposito merupakan salah satu instrumen investasi yang paling aman dibanding yang lainnya. Apalagi dulu waktu krisis moneter bunga deposito sempat meroket hingga menembus angka 60%. Suatu masa panen para penabung dan investor kala itu. Lanjut Baca »

Investasi, sebuah kata yang sudah biasa kita dengar sehari-hari. Sebuah kata yang selalu berkaitan erat dengan uang. Sebuah kata yang sering dimaknai sebagai hasil yang kelak atau diperoleh dari sebuah keputusan finansial masa lalu. Akan tetapi bagi sebagian besar masyarakat kita investasi masih sebatas kata-kata indah dalam finansial namun masih jarang yang menjadikan investasi sebagai kebiasaan/perilaku.
Secara umum investasi sebenarnya bentuk lebih canggih daripada kebiasaan lain yaitu menabung. Menabung lebih kepada menyimpan sejumlah uang secara rutin tanpa motivasi untuk memiliki imbal hasil dari tabungan. Hanya sebatas agar kelak nanti bisa mengumpulkan sejumlah besar uang untuk kebutuhan masa depan.
Sedangkan investasi memiliki motivasi yang lebih dari hanya sekedar menabung. Investasi dijadikan kendaraan bagi kita atau sering disebut investor sebagai alat agar uang/aset yang telah ditanamkan/dibeli kelak bisa mengalami pertumbuhan. Layaknya sebuah pohon yang ditanam sejak kecil, dirawat dan dijaga bertahun-tahun hingga akhirnya memiliki akar yang kokoh, batang pohon yang besar dan kuat, daun yang lebat dan rindang hingga akarnya yang menjulang tinggi.
Begitu pula investasi, dimulai dari pembelian aset awal bisa berbentuk emas, reksa dana, obligasi, saham, bisnis, dll. Secara rutin kita akan selalu memantau “pohon investasi” kita hingga kelak menghasilkan imbal hasil investasi yang mencukupi kebutuhan dan tujuan kita berinvestasi tersebut. Lanjut Baca »

Kita semua diajarkan oleh orang tua kita untuk belajar dan menuntut ilmu sejak kecil, dengan harapan suatu saat kelak kita bisa bekerja, memperoleh penghasilan dan hidup mandiri. Kita dididik oleh orang tua dan para guru kita untuk mempersiapkan diri agar dapat bekerja dan memiliki uang sendiri. Namun sedikit sekali diantara kita yang diajarkan bagaimana cara mengelola keuangan yang baik, sehingga ketika kita memiliki uang sendiri, banyak diantara kita yang mengalami kesulitan dalam mengelolanya, terutama dalam menetapkan skala prioritas pengeluaran. Sebagian diantara kita bahkan terjebak dalam pusaran kesulitan pengelolaan keuangan, yaitu pengeluaran selalu lebih besar daripada pemasukan dan akibatnya terjerat masalah hutang. Dampak berikutnya adalah terganggunya kemampuan merencanakan kehidupan yang lebih baik untuk masa depan.

Bagaimana mengatasinya ?
Masalah keuangan harus dipahami dan ditangani dengan bijak. Uang atau harta sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Namun, uang dan harta tidak boleh menjadi jalan menuju kesengsaraan hidup. Uang dan harta bukanlah tujuan hidup, dia hanyalah alat mencapai tujuan : kebahagaian di dunia dan juga di akhirat kelak. Lalu bagaimana menjadikan uang dan harta untuk mencapai tujuan di atas dan menjadi bekal ibadah kita?
Memiliki Kecerdasan Finansial menjadi keharusan untuk menjawab tantangan di atas.
Salam Hijrah :
Aku Amanah  - Aku Cerdas – Aku Cermat

WORKSHOP CERDAS FINANSIAL
How to use Financial Quotient in your everyday life……
To be more successful, happier and to prepare for a better future

Fasilitator : Eko P. Pratomo (penulis buku FQ dan praktisi Investasi)
Palgunadi T. Setyawan (life motivator dan inspirator)
Elsa Febiola Aryanti (financial planner)
Lanjut Baca »

Selama ini kalau kita mendengar kata investasi, biasanya selalu harus dengan jumlah nominal uang yang besar yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu saja. Bila kita ingin mulai belajar berinvestasi, namun tidak punya dana dalam jumlah besar dan hanya mengandalkan sejumlah uang kecil dengan cara ketengan maka ternyata sekarang ada solusinya loh. Dari pengamatan kami ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan:
  • Berinvestasi emas. Ya emas adalah salah satu sara inevestasi yang lumayan murah, dengan uang yang tidak terlalu besar. Mulai dari skala 300-ribuan kita sudah bisa membeli emas dalam bentuk koin/batangan.
  • Reksa dana. Ya ternyata reksa dana juga bisa dijadikan wahana investasi bagi investor kecil-kecilan. Cukup membuka rekening awal sekitar 1 juta, maka selanjutnya kita bisa berinvestasi rutin setiap bulan mulai dari 250-ribuan setiap bulan. Bahkan investasi rutin tersebut bisa dilakukan dengan cara meng-autodebet tabungan di bank Anda. Jadi bebas repot kan. Dan bila kita lihat lagi ternyata cara sepert ini bisa mengubah perilaku menabung kita, yang semula di bank sekarang beralih ke reksa dana.
Demikianlah dua contoh sarana investasi bagi Anda yang ingin mulai belajar investasi kecil-kecilan. Bisa jadi juga mungkin ada beberapa sarana investasi lain yang bisa digunakan, harap bisa membagi informasi lewat komentar tulisan ini. Terima kasih.
Manage your Personal Finance Easily & Simple
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.